Akhir tahun sering dianggap sebagai momen paling ramai sekaligus emosional bagi banyak orang. Di satu sisi, kita disibukkan dengan liburan, pencapaian pribadi, serta rencana baru untuk tahun berikutnya. Namun di sisi lain, ada juga tekanan terselubung yang datang dari lingkungan digital, terutama media sosial. Platform seperti Instagram, TikTok, dan X (Twitter) menjadi wadah penuh highlight, pencapaian, dan cerita-cerita yang membuat kita tanpa sadar membandingkan diri sendiri dengan orang lain.
Di era serba cepat seperti sekarang, media sosial sudah menjadi bagian kehidupan. Kita menggunakannya untuk berkomunikasi, mencari informasi, hingga mencari inspirasi gaya hidup. Namun, ketika frekuensinya meningkat dan ekspektasi sosial kian besar, kesehatan mental sering kali ikut terpengaruh. Artikel ini mengulas secara mendalam bagaimana media sosial memengaruhi kondisi mental jelang dan saat akhir tahun, serta bagaimana kita bisa mengelolanya dengan lebih sehat.
1. Fenomena “Highlight Season” dan Dampaknya pada Mental
Akhir tahun identik dengan berbagai postingan yang menunjukkan pencapaian. Mulai dari “year in review”, konten liburan, hingga rangkuman prestasi karier. Meski hal ini positif bagi sebagian orang, bagi banyak lainnya justru bisa menimbulkan rasa tidak cukup, perasaan tertinggal, atau bahkan stres.
Mengapa ini terjadi?
Karena manusia secara alami cenderung membandingkan diri sendiri dengan lingkungan. Ketika media sosial dipenuhi sorotan terbaik dari hidup orang lain, otak kita secara otomatis fokus pada kekurangan diri. Padahal, apa yang kita lihat hanyalah 1% dari kehidupan mereka.
Dampak yang sering muncul antara lain:
-
Munculnya kecemasan atau anxiety
-
Tekanan untuk ikut “berprestasi”
-
Penurunan rasa percaya diri
-
Overthinking terhadap apa yang belum dicapai
Di akhir tahun, fenomena ini meningkat karena budaya refleksi dan evaluasi diri sedang tinggi-tingginya. Banyak orang tanpa sadar merasa terpuruk karena membandingkan diri secara berlebihan.
2. FOMO: Ketakutan Ketinggalan Momen Liburan
FOMO (Fear of Missing Out) adalah salah satu pemicu stres terbesar di era digital. Pada akhir tahun, FOMO sering muncul dalam bentuk:
-
Melihat orang lain liburan ke tempat menarik
-
Mengikuti tren akhir tahun yang viral
-
Merasa harus ikut merayakan, meski sebenarnya tidak ingin atau tidak mampu
-
Terpacu membeli sesuatu hanya karena sedang tren
Momentum liburan yang penuh visual indah membuat banyak orang merasa hidup mereka kurang menarik dibandingkan feed media sosial. Padahal setiap orang punya kondisi ekonomi, tanggung jawab, serta prioritas berbeda.
FOMO dapat memengaruhi mental dengan cara:
-
Memicu kecemasan berlebihan
-
Menimbulkan kebiasaan membandingkan tanpa sadar
-
Membuat seseorang merasa tidak puas dengan hidupnya sendiri
-
Mengganggu kualitas tidur akibat konsumsi konten berlebih
3. Tekanan Sosial Akhir Tahun: Ekspektasi dari Lingkungan Digital
Media sosial tidak hanya menjadi tempat berbagi, tetapi juga ruang penuh ekspektasi. Tanpa sadar, banyak orang merasa perlu menampilkan versi terbaik diri mereka di akhir tahun. Mulai dari foto liburan, outfit, hingga pencapaian kerja.
Tekanan ini bisa muncul dari:
-
Lingkungan pertemanan
-
Tren konten akhir tahun
-
Kampanye brand dan influencer
-
Kultur “harus terlihat produktif”
Ketika ekspektasi ini tidak terpenuhi, banyak orang merasakan stres dan kelelahan emosional. Akhir tahun yang seharusnya waktu untuk istirahat justru berubah menjadi ajang “harus tampil keren”.
4. Efek Doomscrolling di Malam-malam Akhir Tahun
Doomscrolling, kebiasaan mengonsumsi konten tanpa henti meski kontennya tidak membuat bahagia, biasanya meningkat di akhir tahun. Orang-orang banyak menghabiskan waktu di rumah, entah karena libur atau cuaca, sehingga intensitas penggunaan smartphone meningkat.
Dampak doomscrolling terhadap mental:
-
Meningkatkan rasa lelah mental
-
Menurunkan motivasi
-
Memperburuk gejala stres dan kecemasan
-
Mengganggu kualitas tidur
Faktanya, banyak orang tidak sadar bahwa mereka telah menghabiskan 2–4 jam hanya untuk menggulir media sosial tanpa tujuan jelas, yang pada akhirnya membuat otak semakin jenuh.
5. Emosi Campuran: Nostalgia, Penyesalan, dan Tekanan Target
Akhir tahun adalah waktu penuh refleksi. Media sosial dengan cepat memperkuat emosi ini. Banyak orang mengalami campuran perasaan seperti:
-
Nostalgia melihat kenangan
-
Penyesalan karena target tidak tercapai
-
Kekhawatiran tentang masa depan
-
Tekanan agar harus sukses tahun depan
Konten seperti “New Year, New Me” sering membuat seseorang merasa harus merencanakan hidup secara drastis, padahal perubahan besar tidak harus selalu terjadi setiap pergantian tahun.
6. Pengaruh Media Sosial pada Remaja di Akhir Tahun
Remaja adalah kelompok paling rentan terhadap efek negatif media sosial. Pada periode akhir tahun, mereka sering terpapar:
-
Standar kecantikan dan gaya hidup yang tidak realistis
-
Tekanan untuk tampil “sempurna” di foto akhir tahun
-
Tren viral yang membuat mereka merasa harus ikut agar diterima
-
Konten perbandingan sosial yang intens
Remaja yang terlalu sering online pada periode ini cenderung mengalami perubahan suasana hati lebih cepat, mudah lelah secara mental, serta mengalami gangguan konsentrasi.
7. Cara Mengelola Konsumsi Media Sosial agar Tetap Sehat
Berita baiknya, media sosial tidak harus selalu berdampak negatif. Dengan pengelolaan yang tepat, platform ini dapat tetap menjadi sumber inspirasi dan hiburan. Berikut beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menjaga kesehatan mental selama akhir tahun:
a. Batasi waktu penggunaan
Tentukan durasi harian, misalnya 1–2 jam. Gunakan fitur Digital Wellbeing untuk memantau waktu layar.
b. Kurasi akun yang diikuti
Unfollow akun yang membuat Anda merasa tertekan, dibandingkan, atau tidak nyaman.
c. Prioritaskan interaksi positif
Berbincang dengan teman dekat secara langsung jauh lebih menenangkan daripada sekadar melihat feed mereka.
d. Fokus pada realitas, bukan ilusi digital
Ingat bahwa postingan hanyalah highlight, bukan gambaran lengkap hidup seseorang.
e. Buat jeda digital (digital detox)
Luangkan satu hari tanpa media sosial, terutama saat malam tahun baru untuk fokus pada diri sendiri dan keluarga.
f. Konsumsi konten mindful
Cari konten edukatif, motivasi sehat, atau video yang benar-benar memberikan nilai positif.
8. Menutup Tahun dengan Mental yang Lebih Tangguh
Akhir tahun seharusnya menjadi momen untuk menenangkan diri, bukan menambah tekanan. Dengan memahami bagaimana media sosial memengaruhi mental, kita dapat lebih bijak dalam mengelola ekspektasi dan emosi. Setiap orang memiliki jalannya masing-masing. Tidak perlu membandingkan diri dengan pencapaian orang lain karena perjalanan hidup tidak berjalan dalam ritme yang sama.
Akhiri tahun dengan rasa syukur atas hal kecil yang telah dilalui, bukan hanya pencapaian yang terlihat. Media sosial hanyalah alat, bukan penentu nilai diri. Gunakan seperlunya, nikmati seperlunya, dan lindungi kesehatan mental Anda dari tekanan digital yang tidak perlu.



